Bayangan sudah dua kali panjang badanku. Saatnya masuk Ashar. Konon ribuan malaikat turun ke dunia di waktu Ashar. Aku harap salah satu dari mereka turun membawa amanat kesembuhan untuk Gibran. Muhammad Gibran Ahmadi tidak menangis saat ia hadir di dunia ini. Paru-parunya terlalu lemah untuk itu. Ia lahir prematur.
Tadinya aku berencana akan memberi nama anakku ‘Angin Penghujung Musim’ karena ia lahir di ujung musim angin bulan Oktober ini. Namun isteriku terlalu konvensional untuk memiliki anak bernama sekontemporer itu. Akhirnya kami memilih nama yang tidak terlalu kontemporer, namun tetap memiliki makna yang istimewa.
Muhammad, nama Islami yang begitu dikagumi. Sedangkan Gibran adalah doa agar anak kami menjadi seorang yang memilik naluri menulis setajam Khalil Gibran. Kemudian Ahmadi adalah doa agar ia memiliki akhlak selembut Ahmad. Sifat Jamal, kelemahlembutan Sang Terpilih Muhammad s.a.w.
Rendahnya posisi matahari di cakrawala sore ini menghasilkan pantulan keperakkan di atas setiap riak laut selatan. Tanah yang baru saja kulunasi cicilannya terbentang di depan mataku dan isteriku. Lokasinya sungguh menguntungkan. Bukan di pinggir pantai, namun menghadap ke laut. Laut Selatan sebenarnya. Namun orang sini lebih mengenalnya sebagai Selat Nusa Penida. Mungkin juga ini hanya sebuah selat dan bukan laut terbuka. Tapi luasnya tidak menampakkan seperti itu. Lagi pula ombak yang sering pecah terlihat dari kejauhan membuatnya lebih seperti laut ketimbang selat. Bagaimanapun juga, pulau Nusa Penida bisa terlihat sedikit di bawah cakrawala.
Rumah yang kami idamkan – yang aku idamkan lebih tepatnya – adalah rumah seperti yang biasa terlihat di pulau-pulau di Yunani. Pulau Mikonos. Rumah tembok yang tidak terplester rapi, dengan cat putih di sekujur tubuhnya. Namun kami sepakat agar memberi sentuhan timur tengah di rumah kami nantinya. Aku usulkan gaya Maroko. Isteriku langsung setuju.
Seminggu lagi masuk bulan November. Hujan belum kunjung turun dan kemarau sepertinya masih betah melatarbelakangi bulan Oktober yang penuh angin ini. Gibran semestinya lahir sebelum November. Itu menurut perkiraan isteriku. Namun dokter-dokter mengatakan awal November. Tapi sepertinya Gibran sangat ingin keluar lebih awal, bertepatan dengan hari Idul Fitri – dan itulah yang terjadi. Ia lahir tanggal 1 Syawal 1427H dalam penanggalan hijriyah. Dalam penanggalan masehi saat itu adalah tanggal 24 Oktober 2006. Persis tanggal kelahiran kakeknya yang sekarang berulang tahun di Hari Raya Lebaran.
