Monday, 14 February 2011

Jika Tujuan Anda Hanya Ingin Kaya, Mungkin Lebih Mudah Untuk Mencapainya

17:47

Coba Anda ingat-ingat siapa saja orang-orang kaya di sekitar Anda. Kemudian perhatikan apakah kira-kira yang bisa membuat mereka kaya. Saya sendiri sudah mencoba beberapa kali dan yang saya lihat adalah teman-teman di sekitar saya yang kaya itu ternyata bekerja seperti biasa saja. Ada yang karyawan kantoran, ada yang berdagang, ada juga yang bekerja lepas.

Lihat saja Si Urip. Waktu saya kuliah dulu, Urip berdagang bakso malang di kantin kampus. Dagangannya biasa saja hanya dibawa dengan tanggungan seadanya. Baksonya pun tidak istimewa juga. Namun sekarang, saat saya mengajar di tempat saya kuliah dulu, Si Urip sudah mampu menyewa ruangan di kantin yang lebih besar. Konon ia juga sudah punya beberapa gerobak lain yang dikelola oleh adik-adiknya. Ia hanya tinggal terima setoran.

Kenalan lain adalah Iwan, seorang tukang baso tahu (siomay) dari Garut. Sewaktu saya kuliah dulu dagangannya juga hanya ditanggung seadanya, dan juga ia sangat kurus. Tapi sekarang ia sudah berdagang menggunakan gerobak. Badannya juga jadi gemuk. Demikian pula dengan Zen. Tukang bubur yang sekarang sudah memiliki lebih dari satu gerobak bubur.

Ketika membaca buku karya Paul Arden, “It’s Not How Good You Are”, ternyata ia memiliki pemikiran yang, kurang lebih, sama dengan saya. Ia menemukan bahwa hampir semua orang kaya dan punya kuasa, adalah mereka yang tidak terlalu tampak berbakat, berpendidikan tinggi, memukau, atau ganteng. Menurut Paul Arden, orang-orang kaya itu menjadi kaya dan punya kuasa, hanya dengan berkeinginan saja untuk jadi kaya dan berkuasa.

Teman-teman yang saya perhatikan sekarang menjadi kaya itu ternyata cocok dengan profil yang dikemukakan Paul Arden. Tampak tidak terlalu berbakat, tidak berpendidikan tinggi, tidak memukau, dan... tidak ganteng. Saya lihat dalam benak mereka selama berdagang, memang hanyalah ada satu pemikiran, jadi kaya. Sehingga apapun perilaku mereka sehari-hari selalu ditujukan untuk menjadikan diri mereka kaya. Jalan yang ditempuh mungkin sederhana. Berhemat, tidak membeli apa yang belum mampu mereka beli, bangun pagi, sabar, dan lain sebagainya. Persis seperti pepatah dagang orang-orang keturunan Cina. Prinsip mereka, kalau belum mampu makan nasi, makan saja bubur. Kalau belum mampu beli dua, jangan dulu beli walau cuma satu.

Lagi-lagi Paul Arden mengemukakan hal ini. Ia bilang, visi Anda tentang kemana Anda ingin pergi atau menjadi siapa Anda nanti, adalah aset terbesar yang Anda miliki. Tanpa memiliki tujuan, sangat sulit untuk mencapainya.

Namun dari pemaparan tadi, saya merasa bahwa Anda yang membaca tulisan ini pasti bukan hanya orang yang cukup ingin kaya saja. Kemungkinan besar Anda adalah orang yang juga memiliki keinginan lain yang sifatnya idealis. Tidak sedikit di dunia ini orang-orang yang sebenarnya jika mereka hanya ingin kaya, mereka bisa mencapainya. Namun orang-orang ini ternyata juga memiliki idealisme yang ingin mereka capai. Idealisme ini ternyata membawa mereka pada pekerjaan-pekerjaan yang jauh lebih sulit daripada untuk menjadi kaya.

Banyak penulis-penulis yang memiliki tingkat pemikiran tinggi seperti Pramoedya, misalnya, hidupnya ternyata tidak kaya seperti si Zen tukang bubur. Seniman seperti Van Gogh yang menemukan teknik melukis yang legendaris, hidupnya pun lebih malang daripada tukang bakso Malang. Namun apa yang mereka capai di dunia ini, nyatanya jauh lebih berharga daripada hanya sekedar menjadi kaya.

Posted by

Adrian Agoes, MM.Par a post graduate on Tourism Administration is now a lecturer at a tourism school in Bandung. His experiences are vary from being a tour leader visiting remote places in Indonesia, to being a travel photographer.

 

© 2013 Pemasaran Pariwisata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top