Pamusuk Eneste
http://www.suarapembaruan.com/
Umar Kayam bukanlah cerpenis yang produktif. Kumpulan cerpennya yang pertama, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) hanya berisi 6 cerpen. Keenam cerpen ini kemudian dimuat kembali dalam kumpulan cerpen Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya (Pustaka Jaya, 1986) bersama 4 cerpen yang lain (”Sri Sumarah”, “Bawuk”, “Musim Gugur Kembali di Connecticut”, dan “Kimono Biru buat Istri”).
Kumpulan cerpen Umar Kayam terakhir, Lebaran di Karet, di Karet … (Penerbit Kompas, 2002) — yang terbit setelah Umar Kayam meninggal — memuat 13 cerpen. Ternyata 8 dari 13 cerpen itu pernah diterbitkan dalam kumpulan cerpen Umar Kayam, Parta Krama (Yayasan untuk Indonesia, 1997). Dari 5 cerpen yang ditambahkan (”Menjelang Lebaran”, “Lebaran Ini, Saya Harus Pulang”, “Lebaran di Karet, di Karet …”, “Sardi”, dan “There Goes Tatum”), ternyata satu cerpen pernah dimuat dalam kumpulan cerpen Sri Sumarah, yaitu “There Goes Tatum”.
Jadi, selama 30 tahunan usia kepengarangannya, Umar Kayam hanya menulis 22 cerpen (cerpen “There Goes Tatum” dimuat dalam Sri Sumarah dan Lebaran di Karet, di Karet …) ditambah dua novel, Para Priyayi (1992) dan Jalan Menikung (1999).
Duka Lebaran
Delapan dari 13 cerpen yang terkumpul dalam Lebaran di Karet, di Karet … berkisah seputar Lebaran dengan segala lika-likunya. Kedelapan cerpen itu adalah “Ke Solo, ke Njati”, “Ziarah Lebaran”, “Menjelang Lebaran”, “Lebaran Ini, Saya Harus Pulang”, “Marti”, “Mbok Jah”, “Lebaran di Karet, di Karet …”, dan “Sardi”.
Meski bisa menyenangkan, dalam fiksi Umar Kayam, Lebaran itu justru lebih banyak menyedihkan, mengecewakan, dan bikin trenyuh. Dari 8 cerpen bertema Lebaran, hanya cerpen “Marti” (hlm. 30-37) yang menyuguhkan kegembiraan di kala Lebaran. Selebihnya, cerpen-cerpen Umar Kayam didominasi kemuraman, kesedihan, atau (sebut saja) duka Lebaran.
