Showing posts with label tourism. Show all posts
Showing posts with label tourism. Show all posts

Friday, 2 November 2018

Gempita (Generasi Muda Pariwisata)



Peralihan generasi merupakan suatu hal yang tidak bisa kita elakkan. Saat ini kita sedang menuju suatu era di mana generasi mudalah yang akan memimpin dan menjalankan dunia. Terlebih kelompok usia yang dikenal sebagai generasi milenial atau Generasi Y dan bahkan sekarang sudah bertumbuh generasi terbaru yang dikenal sebagai Generasi Z. Peralihan generasi ini akan dirasakan oleh semua bidang termasuk juga dalam industri pariwisata.

Untuk mengingat kembali bahwa generasi Baby Boomers adalah generasi yang lahir antara tahun 1945 - 1960. Karakter ciri Baby Boomers adalah cenderung idealis dan memegang teguh nilai-nilai yang sudah mereka warisi dari para pendahulu mereka. Kemudian selanjutnya adalah Gen-X, lahir antara tahun 1961 - 1980. Memiliki ciri mulai moderen dan mengikuti perkembangan teknologi, namun masih memegang nilai-nilai yang diajarkan para orang tua mereka yang berasal dari generasi Baby Boomers. Kaum Gen-X ini tidaklah sekonservatif generasi sebelumnya. Kemudian Generasi Y atau dikenal dengan julukan generasi Millenial. Lahir antara tahun 1981 - 1995. Karakter mereka umumnya mendahulukan kebebasan dan fleksibilitas. Ketika Gen Y beranjak dewasa, maka saat itu di Indonesia sudah berkembang teknologi internet dan juga smartphone. Selanjutnya generasi terkini adalah Generasi Z yang lahir setelah tahun 1995. Generasi ini biasa dijuluki sebagai “anak kandung internet” karena mereka tidak pernah merasakan hidup tanpa internet.

Menurut prediksi (Badan Pusat Statistik), maka diperkirakan pada tahun 2020 angkatan kerja di Indonesia akan didominasi oleh Generasi Millenial sekitar 34% (83 juta jiwa) dari seluruh penduduk Indonesia (271 juta jiwa). Pada saat itu usia Generasi Millenial akan berkisar antara 20 - 39 tahun. Disusul oleh Generasi X (usia 40 - 54) sebesar 20% (± 54 juta jiwa). Sedangkan generasi Baby Boomer akan berjumlah sekitar 13% dengan rentang usia dari 55 - 74 tahun (memasuki usia-usia pensiun). Studi tersebut lebih lanjut menyimpulkan bahwa yang akan menjadi pelaku utama di masa depan Indonesia adalah entitas yang disebut sebagai Urban Middle-Class Millenials. Komposisi tersebut juga sedikit banyak akan terbentuk pada angkatan kerja di industri pariwisata (Purwandi, 2016).

Sebelumnya terlebih dahulu industri pariwisata menghadapi suatu momen penting yakni momen peralihan teknologi. Ketika memasuki milenium ketiga industri pariwisata mulai terpapar dan secara segera kemudian beralih kepada teknologi informasi. Berbagai struktur bisnis dalam industri pariwisata tidak hanya terpengaruh, bahkan bisa dikatakan sudah benar-benar berubah wujud. Jalur distribusi dalam industri ini pun seolah sudah luluh lantak dengan adanya akses langsung dari konsumen ke produsen. Dalam gencarnya perubahan tersebut nyatanya peralihan teknologi itu bukanlah satu-satunya yang harus dihadapi oleh industri pariwisata.

Tidak berhenti di situ, pariwisata juga menghadapi suatu perubahan penting lain yakni adalah beralihnya generasi, seperti yang terjadi pada industri lainnya juga secara umum. Ketika industri ini dibangun kala itu para pelopor pembangunan pariwisata di Indonesia yakni berasal dari generasi Baby Boomers. Seperti diketahui generasi Baby Boomers ini merupakan generasi yang memiliki ciri-ciri yakni memegang teguh pada nilai-nilai yang sudah mereka yakini yang diperoleh secara tradisi turun temurun. Demikian pula dalam pengembangan pariwisata, generasi Baby Boomers ini memiliki beberapa idealisme dalam hal standar pelayanan yang umumnya mengacu pada standar pelayanan prima. Pengalaman industri pariwisata yang dikembangkan oleh kalangan Baby Boomers sebetulnya berangkat dari standar pelayanan wisatawan-wisatawan Eropa (Barat) yang mengutamakan kualitas pelayanan yang tinggi. Di dalam dunia kepariwisataan, khususnya di perhotelan, dikenal juga standar-standar pelayanan yang memang diadopsi oleh generasi pariwisata Baby Boomers dari model-model pelayanan di Eropa.

Hingga saat ini standar pelayanan seperti ini pun masih dipertahankan. Begitu juga jika kita melirik pada standar pelayanan di dalam paket-paket perjalanan wisata. Pengembangan model pelayanan pun diambil dari model pelayanan bagi wisatawan-wisatawan asing yang berasal dari Eropa (Perancis, Belanda, Jerman). Kemudian pada generasi selanjutnya yakni Generasi X, nilai-nilai pelayanan seperti itu juga masih dipertahankan. Meskipun pada gilirannya Generasi X mengadopsi teknologi informasi (internet, smartphone), namun generasi pariwisata dari kalangan Gen-X ini tetap memiliki kesetiaan untuk memelihara standar pelayanan yang mereka kenal dari pendahulunya (Baby Boomers).

Generasi pariwisata Baby Boomers telah membangun pondasi sedemikian rupa saat mengembangkan pariwisata. Mulai dari tatanan-tatanan bisnis hingga konsep-konsep pelayanan dan standar-standar operasional telah mereka tetapkan. Industri yang dibangun kala itu kiranya cocok untuk generasi saat itu. Namun di masa sekarang, ketika kalangan wisatawan pun sudah beralih generasi, agaknya standar-standar dan tatanan yang telah diwujudkan para pelopor pariwisata di masa lalu sudah harus menyesuaikan diri.

Respon terhadap peralihan teknologi pun dirasakan lambat dilakukan oleh para generasi pelopor. Peralihan teknologi direspon lebih cepat oleh kalangan generasi milenial. Demikian pula dalam industri pariwisata saat ini mulai banyak berkembang tatanan-tatanan baru yang diterapkan oleh generasi masa kini. Mulai dari cara pemasaran, tatanan distribusi, standar operasional, hingga jenis-jenis produk pariwisata yang berkembang. Sebagai contoh bisa dilihat bahwa dalam memasarkan produk pariwisata saat ini tidak lagi terpaku pada susunan produk yang biasa dilakukan di masa lalu. Kita bisa melihat para pelaku usaha pariwisata cukup mem-posting foto dan sedikit keterangan pada media-media sosial. Setelah itu para wisatawan generasi sekarang pun mulai membuat reservasi melalui fitur-fitur percakapan (chat) yang tersedia. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh para pelaku pariwisata generasi pendahulu. Kala itu reservasi melalui e-mail pun masih dianggap kurang formal sehingga perlu dibuat surat khusus yang dikirimkan secara tercetak. Namun saat ini reservasi lewat fitur chat pun sudah bisa dianggap sah dan ditindaklanjuti secara mudah.

Kemudian contoh lainnya adalah saat pelaksanaan sebuah perjalanan wisata misalnya. Ketika generasi terdahulu begitu ketat dengan aturan-aturan dalam perjalanan wisata, kita melihat saat ini para pelaku wisata dari generasi yang lebih muda akan menjalankan perjalanan wisata dengan lebih santai dan longgar aturan. Ini dilakukan tentu dengan mempertimbangkan para pesertanya yang dipenuhi oleh wisatawan-wisatawan muda. Hal-hal seperti itu terjadi bukan karena ketidakpahaman para generasi terdahulu akan perkembangan teknologi, namun lebih kepada sulitnya menerima nilai-nilai baru dalam kepariwisataan yang sudah lebih longgar dibandingkan apa yang mereka bangun terlebih dahulu. Standar-standar operasional pun kini menjadi lebih sederhana bahkan generasi terdahulu ada yang menilai bahwa standar operasional seperti itu cenderung dianggap serampangan. Misalnya ketika dalam sebuah perjalanan wisata penanganan bagasi yang dulunya harus dilayani oleh porter dan sebagainya, namun saat ini ditangani sendiri oleh para wisatawan. Ini tentunya sulit diterima oleh generasi terdahulu yang mempelopori bentuk-bentuk layanan yang istimewa. Sedangkan oleh generasi sekarang hal tersebut dianggap lebih efektif dan efisien dalam operasional sebuah perjalanan wisata.

Selain itu faktor penyebab dari bergesernya standar pelayanan di dalam bidang kepariwisataan juga adalah karena berkembangnya segmen pasar wisatawan di Indonesia. Indonesia tidak lagi hanya melayani wisatawan-wisatawan Eropa, namun berkat perkembangan teknologi informasi, saat ini Indonesia sudah mengembangkan pasarnya hingga ke Eropa Timur, Afrika, dan juga Asia. Tentunya perlakuan bagi para wisatawan dari benua lain, akan berbeda juga dibandingkan perlakuan terhadap wisatawan Eropa (Barat). Terutama ketika melayani wisatawan-wisatawan dari Asia (China, India, Pakistan), maka terlihat standar pelayanan pun akan lebih longgar dibandingkan saat melayani wisatawan dari Eropa.

Ada contoh-contoh lain di mana nilai-nilai dan tatanan-tatanan kepariwisataan yang dibangun terdahulu, pada masa sekarang seolah-olah sudah beralih dan bergeser ke arah yang berbeda. Selain disebabkan oleh terjadinya peralihan teknologi, pergeseran nilai-nilai dan tatanan tersebut lebih jauh disebabkan oleh adanya peralihan generasi dalam industri pariwisata. Generasi saat ini akan lebih menekankan pada aspek efektifitas, efisiensi, serta juga aspek-aspek kepraktisan. Hal yang sulit diterima oleh para pelopor pariwisata di masa terdahulu.

Generasi sekarang adalah generasi yang sulit bertahan pada satu tren. Generasi yang selalu dinamis, bergerak, dan mencoba hal-hal yang baru. Generasi fashionable. Perkembangan teknologi membantu terdorongnya hasrat generasi seperti demikian. Hal serupa yang dialami juga oleh industri pariwisata. Dengan kreatifitas yang tidak lagi terbatas, banyak kalangan generasi muda pariwisata di Indonesia yang juga mencoba mengkreasikan jenis-jenis wisata baru. Mulai dari wisata hantu (Urban Legend), wisata foto (instagramable), hingga wisata kuliner. Kegairahan untuk mencoba hal-hal baru ini juga yang sangat mendorong dinamika generasi wisatawan muda untuk mencari kepraktisan saat akan berwisata.

Generasi pariwisata terdahulu akan menitikberatkan pada aspek interpretasi tentang suatu tempat wisata yang dikunjungi. Informasi tentang sejarah, kebudayaan, dan hikayat-hikayat setempat akan menjadi nilai yang berharga dalam kunjungan mereka. Jika generasi pariwisata terdahulu berkukuh menjual nilai-nilai tersebut dalam produk pariwisata mereka, tentu akan sulit untuk bersaing dengan produk dari generasi pariwisata saat ini. Saat ini produk pariwisata akan laku jika menawarkan lebih banyak spot foto yang indah dan menghindari ‘kebosanan’ akan cerita-cerita yang dahulu dianggap penting.

Lantas bagaimana para pelopor pariwisata di Indonesia mesti menyikapi pergeseran tersebut? Bukan hanya pergeseran struktur bisnis, namun juga tatanan dan nilai-nilai kepariwisataan yang mulai berubah cukup signifikan.

Atas nama kepraktisan kita bisa melihat begitu merebak para pelaku pariwisata yang menawarkan paket instan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata populer yang mengutamakan kesempatan berfoto. Pola pelaksanaan perjalanan wisatanya pun lebih menonjolkan aspek hiburan dibandingkan aspek informasi yang bersifat memperkaya wawasan. Hal ini tentu tidak bisa kita sangkal bahwa memang banyak terjadi.

Tentu saja generasi terdahulu tidak bisa memaksakan nilai-nilai yang sejak dulu dibangun pada generasi sekarang. Walaupun memang karakter generasi terdahulu sangat teguh memegang tradisi dan bersikap cukup idealis. Namun juga bukan berarti dengan tidak memaksakan nilai-nilai tersebut maka generasi pendahulu bisa tinggal diam membiarkan nilai-nilai yang begitu luhur tergeser oleh peralihan generasi dalam pariwisata di Indonesia. Pemeliharaan standar-standar pelayanan dan nilai-nilai dalam kunjungan wisata, tentu harus terus diajarkan kepada generasi muda pariwisata Indonesia. Diharapkan kalangan Generasi X pariwisata Indonesia bisa menjadi perantara antara penerus nilai-nilai pendahulu pariwisata Indonesia dengan perkembangan teknologi dan kreatifitas generasi muda pariwisata Indonesia.

Kemajuan pariwisata di Indonesia tentu tidak terlepas dari kualitas dan standar pelayanan yang telah dibangun oleh para generasi pelopor pariwisata Indonesia. Kesohoran Bali, Yogyakarta, dan juga destinasi-destinasi unggulan lainnya di Indonesia, adalah dikarenakan pelayanannya yang prima serta juga aspek-aspek pendidikan dan wawasan yang didapatkan oleh para wisatawan yang berkunjung ke sana. Tidak sedikit wisatawan mancanegara yang lantas mempelajari gamelan di Yogyakarta secara lebih mendalam karena kunjungan wisata mereka begitu berkesan dengan bantuan pemandu wisata yang berwawasan budaya tinggi. Sangat banyak wisatawan mancanegara yang kembali mengunjungi Bali untuk kesekian kalinya karena terkesan oleh pelayanan yang diberikan para pelaku wisata di Pulau Dewata tersebut.

Reputasi pariwisata Indonesia yang telah begitu mapan terbangun hendaknya tetap dipelihara oleh generasi muda pariwisata Indonesia selanjutnya. Tentu sangat penting bagi generasi muda pariwisata Indonesia untuk berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman. Peralihan teknologi yang terjadi pun telah direspon sangat baik oleh generasi muda pariwisata Indonesia. Terbukti dengan terwujudnya perusahaan-perusahaan online travel agency asal Indonesia yang begitu berkembang dengan reputasi internasional. Namun hendaknya tidak dilupakan bahwa sangat penting juga untuk memelihara standar-standar pelayanan dan nilai-nilai serta tatanan yang sudah baik dibangun oleh para pelopor pariwisata Indonesia. Tetaplah menjaga kualitas pelayanan serta aspek-aspek edukasional dalam menciptakan produk-produk pariwisata yang baru. Jangan terlena oleh tren sesaat yang mementingkan aspek hiburan semata. Berilah nilai pengalaman pengunjung yang berharga pada setiap kunjungan mereka. Janganlah berhenti dan berpuas diri hanya karena mampu mengantar wisatawan untuk berfoto selfie semata.

Dari aspek nilai-nilai ideal dalam pariwisata, Indonesia sendiri telah memiliki undang-undang tentang kepariwisataan di mana di situ diatur tentang tujuan-tujuan luhur pengembangan pariwisata Indonesia. Antara lain yang cukup penting tentu saja adanya jalinan persahabatan dengan negara lain, peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat, serta juga harus mampu berperan dalam pelestarian lingkungan dan kebudayaan. Selain itu juga dalam tataran internasional, Badan Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yakni Word Tourism Organization (WTO) juga menekankan adanya 10 Global Code of Ethics for Tourism. Di sana tercantum nilai-nilai universal yang diharapkan terus dipegang oleh setiap pelaku pariwisata di seluruh dunia.

Tentu saja kemajuan zaman tidak bisa dibendung. Hal ini terlihat dari sejarah-sejarah peradaban manusia mulai dari masa-masa pra-sejarah, masa revolusi industri, hingga ke masa revolusi internet dan yang akan kita jelang segera adalah masa inovasi 4.0. Para generasi muda penerus pariwisata Indonesia pun tentu diharapkan akan dengan sigap dan tanggap bisa menyambut perkembangan peradaban yang pesat tersebut dengan tetap berkreasi dan berinovasi. Tetapi di sisi lain, tentu saja diharapkan bahwa perkembangan peradaban tersebut tetap memelihara dan mengindahkan nilai-nilai yang telah dibangun sebelumnya, terutama dari aspek-aspek nilai luhur tujuan pariwisata itu sendiri.

Bangkitlah Gempita Indonesia. Generasi Muda Pariwisata Indonesia.

Monday, 30 April 2018

Tour Conductor, Tour Leader, Tour Manager, Tour Guide... Apa bedanya?


Profesi yang ada di dalam industri perjalanan wisata sebetulnya cukup beragam. Namun yang populer di kalangan masyarakat umumnya adalah Tour Leader. Selain itu, ternyata ada juga istilah-istilah lain yang serupa, yakni Tour Conductor, Tour Manager, dan bahkan Tour Guide. Lalu apa sih bedanya antara istilah-istilah profesi tersebut?

Tour Guide

Istilah ini biasa digunakan untuk seseorang yang memandu wisatawan di suatu kota. Ia biasa membawa wisatawan berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat wisata atau daya tarik wisata yang ada di kota tersebut. Sementara di beberapa tempat wisata yang dikunjungi juga biasa tersedia layanan pemandu lokal atau dikenal dengan istilah Local Guide. Pemandu lokal ini yang akan menjelaskan lebih rinci mengenai tempat wisata yang dikunjungi.

Menurut definisi yang lainnya, pemandu wisata atau tour guide adalah seorang profesional yang dipekerjakan biasanya oleh perusahaan manajemen destinasi yang dikenal sebagai DMC, untuk menemani wisatawan di sekitar tempat-tempat wisata. Tugas mereka adalah untuk mengetahui dan menunjukkan berbagai hal. Selain itu mereka juga dituntut untuk mengetahui cukup banyak fakta menarik tentangnya. Seorang pemandu wisata dapat memandu pengunjung ke berbagai tempat daya tarik wisata mulai dari galeri atau museum ke taman binatang atau bahkan petualangan alam 1.

Tour Leader

Ketika membawa rombongan wisatawan mengunjungi destinasi yang berbeda-beda, atau berpindah-pindah kota, maka diperlukan seseorang untuk membimbing perjalanan dan mengatur perjalanan rombongan wisatawan tersebut. Profesi yang menjalankan peran itu biasa disebut sebagai Tour Leader. Saat Tour Leader membawa rombongan wisatawan melakukan perjalanan ke suatu destinasi, bisa saja di destinasi tersebut juga disediakan layanan pemandu wisata, atau si Tour Guide tadi (yang dijelaskan di atas). Dengan kata lain Tour Leader adalah orang yang menjaga kelompok wisatawan sepanjang perjalanan - dari awal hingga akhir. Di beberapa tempat bahkan Tour Leader tidak diperkenankan untuk memandu wisatawan seperti halnya Tour Guide 2. Jadi Tour Leader adalah orang yang mengelola pergerakan kelompok wisatawan selama tur multi-hari. Tour Leader ini haruslah mampu menyelesaikan masalah jauh sebelum anggota grup wisata menyadarinya 3.

Tour Conductor / Tour Manager

Lalu bagaimana dengan istilah Tour Conductor atau Tour Manager? Nah, sebetulnya istilah-istilah itu sama saja dengan Tour Leader. Namun di beberapa negara memang sebutannya berbeda. Jika di Indonesia dikenal dengan istilah Tour Leader, maka di Amerika Serikat dikenal sebagai Tour Conductor. Sedangkan di Inggris biasa disebut sebagai Tour Manager.

Demikianlah beberapa penjelasan singkat mengenai perbedaan istilah-istilah beberapa profesi dalam industri perjalanan wisata. Semoga bermanfaat.

1 Freelance Tour Guide (A Guide For Tour Guides)↩
2 Klawska, Forum Word Reference↩
3 Gregory MD., Forum Word Reference↩

Monday, 26 March 2018

Analisis Atraksi Wisata


Jika kita ingin mengetahui apakah suatu tempat bisa dijadikan daya tarik wisata, maka kita perlu mempelajarinya dengan cara menganalisis atraksi wisatanya. Dalam mata kuliah ini akan dipelajari bagaimana kita harus mengidentifikasi sumber-sumber daya tarik yang dimiliki suatu tempat. Apa saja elemen-elemen atau unsur-unsur yang membentuk daya tarik wisata di tempat tersebut. Selanjutnya kita bisa mengidentifikasi potensi-potensi daya tarik, aktivitas dan sarana apa saja yang bisa dikembangkan. Tentu dengan memperhatikan potensi-potensi wisatawan yang mungkin bisa disasar.

Untuk melakukan analisis terhadap suatu tempat apakah ia bisa menjadi daya tarik wisata, maka ada dua sisi yang harus dipelajari. Sisi produk dan sisi pasar.

Wednesday, 20 December 2017

Praktikum Lapangan Yogyakarta-Merapi



Dalam Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, para mahasiswa Semester 3 dan 4 mulai ditugaskan untuk bisa menyelenggarakan paket perjalanan wisata sendiri. Untuk itu di tahun ini, para mahasiswa Semester 3 ditugaskan untuk mulai mencobanya. Kali ini mereka mencoba membuat paket perjalanan wisata ke Yogyakarta dan Merapi.

Pada awalnya para mahasiswa Semester 3 ini dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok ditugaskan merancang itinerary untuk tour ke Yogyakarta ini. Itinerary yang dirancang dibuat dengan bebas sesuai kesepakatan setiap kelompoknya masing-masing. Pada akhirnya setelah dilakukan penilaian, maka ditetapkan bahwa kedua kelompok ini akhirnya digabung. Sedangkan program itinerary-nya juga merupakan kombinasi dari kedua kelompok tersebut. Berikut adalah rancangan itinerary yang akhirnya disepakati:

Hari Pertama
  • Malam hari kumpul di Kampus STIEPAR, kemudian berangkat menuju Yogyakarta
Hari Kedua
  • Pagi hari tiba di Yogyakarta dan sarapan di RM Soto Kadipiro. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Hutan Pinus Mangunan dan Seribu Batu. Setelah itu tujuan berikutnya adalah Makan Siang di Bukit Bintang. Selepas makan siang, rombongan diajak berkunjung ke Bukit Breksi. Kemudian dari sana dilanjut ke kompleks Keraton Ratu Boko. Makan malam di restoran Ratu Boko, lalu menuju ke penginapan.
Hari Ketiga
  • Pagi hari setelah sarapan langsung menuju ke area base camp MJTC. Di sana dimulai petualangan kecil menyusuri kaki-kaki Gunung Merapi dengan menggunakan jeep. Selesai mengeksplorasi sisa-sisa lava Merapi dengan jeep, kemudian makan siang. Kemudian mengunjungi Museum Ullen Sentalu untuk mempelajari kebudayaan Jawa dan sejarah kerajaan Mataram di Yogyakarta dan Solo. Kembali ke Bandung dan mampir sebentar di beberapa pusat oleh-oleh yang dilewati.
Hari Keempat
  • Pagi hari tiba kembali di Bandung.




Jualan Hotel

Jualan Hotel
Dengan akses member untuk keunikan sistem yang kita miliki, kamu akan terkejut dengan harga yang sangat spesial & promosi yang akan kita tawarkan.

Web Murah

Web Murah
Ayo bikin web kamu sendiri! Awali dengan memiliki domain. Dapatkan dengan harga murah sekarang juga.

AA Travel

AA Travel
Temukan dan pesan tiket pesawatmu dengan mudah di sini. AA Travel merupakan mesin pencari tiket pesawat yang praktis. Penggunaannya sederhana dan cara pembayarannya pun begitu mudah.

My Instagram

 

© 2013 Pemasaran Pariwisata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top