Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Monday, 30 April 2018

Tour Conductor, Tour Leader, Tour Manager, Tour Guide... Apa bedanya?


Profesi yang ada di dalam industri perjalanan wisata sebetulnya cukup beragam. Namun yang populer di kalangan masyarakat umumnya adalah Tour Leader. Selain itu, ternyata ada juga istilah-istilah lain yang serupa, yakni Tour Conductor, Tour Manager, dan bahkan Tour Guide. Lalu apa sih bedanya antara istilah-istilah profesi tersebut?

Tour Guide

Istilah ini biasa digunakan untuk seseorang yang memandu wisatawan di suatu kota. Ia biasa membawa wisatawan berkeliling kota dan mengunjungi tempat-tempat wisata atau daya tarik wisata yang ada di kota tersebut. Sementara di beberapa tempat wisata yang dikunjungi juga biasa tersedia layanan pemandu lokal atau dikenal dengan istilah Local Guide. Pemandu lokal ini yang akan menjelaskan lebih rinci mengenai tempat wisata yang dikunjungi.

Menurut definisi yang lainnya, pemandu wisata atau tour guide adalah seorang profesional yang dipekerjakan biasanya oleh perusahaan manajemen destinasi yang dikenal sebagai DMC, untuk menemani wisatawan di sekitar tempat-tempat wisata. Tugas mereka adalah untuk mengetahui dan menunjukkan berbagai hal. Selain itu mereka juga dituntut untuk mengetahui cukup banyak fakta menarik tentangnya. Seorang pemandu wisata dapat memandu pengunjung ke berbagai tempat daya tarik wisata mulai dari galeri atau museum ke taman binatang atau bahkan petualangan alam 1.

Tour Leader

Ketika membawa rombongan wisatawan mengunjungi destinasi yang berbeda-beda, atau berpindah-pindah kota, maka diperlukan seseorang untuk membimbing perjalanan dan mengatur perjalanan rombongan wisatawan tersebut. Profesi yang menjalankan peran itu biasa disebut sebagai Tour Leader. Saat Tour Leader membawa rombongan wisatawan melakukan perjalanan ke suatu destinasi, bisa saja di destinasi tersebut juga disediakan layanan pemandu wisata, atau si Tour Guide tadi (yang dijelaskan di atas). Dengan kata lain Tour Leader adalah orang yang menjaga kelompok wisatawan sepanjang perjalanan - dari awal hingga akhir. Di beberapa tempat bahkan Tour Leader tidak diperkenankan untuk memandu wisatawan seperti halnya Tour Guide 2. Jadi Tour Leader adalah orang yang mengelola pergerakan kelompok wisatawan selama tur multi-hari. Tour Leader ini haruslah mampu menyelesaikan masalah jauh sebelum anggota grup wisata menyadarinya 3.

Tour Conductor / Tour Manager

Lalu bagaimana dengan istilah Tour Conductor atau Tour Manager? Nah, sebetulnya istilah-istilah itu sama saja dengan Tour Leader. Namun di beberapa negara memang sebutannya berbeda. Jika di Indonesia dikenal dengan istilah Tour Leader, maka di Amerika Serikat dikenal sebagai Tour Conductor. Sedangkan di Inggris biasa disebut sebagai Tour Manager.

Demikianlah beberapa penjelasan singkat mengenai perbedaan istilah-istilah beberapa profesi dalam industri perjalanan wisata. Semoga bermanfaat.

1 Freelance Tour Guide (A Guide For Tour Guides)↩
2 Klawska, Forum Word Reference↩
3 Gregory MD., Forum Word Reference↩

Saturday, 20 September 2014

Indicators of Sustainable Tourism


In developing one tourism destination, we need to find out whether the development consents with the sustainable tourism principle. This is important because without the sustainable principle, the destination might not be survive as an attraction to the visitors in a long time period. Some concepts have been initiated to help the destination managers (i.e. local governments) to apply the principles in the development process. The World Tourism Organization (WTO) from the United Nation however had proposed some indicators to let us know if sustainable tourism is already incorporated by the destination. Those indicators are shown in the following table:


It means that we can see if the above eleven indicators are in order or not. If any of the above indicators say no, the local government should properly control the implementation of the tourism development in the destination.

Monday, 28 July 2014

Komodifikasi Kebudayaan Oleh Pariwisata

“Kebudayaan mengalami komodifikasi di dalam industri pariwisata.” Apa sebenarnya maksud dan makna pernyataan tersebut? Apabila dilihat dari konsep komodifikasi, unsur-unsur kebudayaan mana sajakah yang rentan mengalami komodifikasi?

Jika berbicara mengenai komodifikasi, maka sebetulnya kita merujuk pada paham kapitalisme yang dikemukakan oleh Karl Marx. Dalam Encyclopedia of Marxism, dikemukakan pengertian komodifikasi adalah sebagai berikut:

Komodifikasi berarti transformasi hubungan, sebelumnya bersih dari perdagangan, menjadi hubungan komersial, hubungan pertukaran, membeli dan menjual.
"Komodifikasi" sebetulnya adalah istilah yang baru muncul ke percaturan pada tahun 1977, tetapi mengungkapkan konsep fundamental untuk memahami Marx tentang cara kapitalisme berkembang. Dalam karyanya yang terkenal Marx dan Engels menjabarkan proses tersebut tahun 1848 dalam karya mereka yang terkenal the Communist Manifesto:

“The bourgeoisie has torn away from the family its sentimental veil, and has reduced the family relation into a mere money relation.”
Hal ini menunjukkan bahwa istilah komodifikasi memiliki pengertian yang cenderung mirip dengan komersialisasi. Yakni menjadikan sesuatu tidak lagi dinilai dari aspek sentimentil, namun sudah dinilai semata-mata dengan nilai uang.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam sistem pariwisata, komponen penting yang paling utama adalah adanya daya tarik wisata. Daya tarik wisata ini (ODTW) di dalamnya ada yang terkategori sebagai aspek-aspek kebudayaan. Contohnya seperti tarian, desa adat, cara hidup, upacara adat, tarian, dsb. Karena banyak wisatawan yang datang dengan motivasi karena tertarik dengan ODTW budaya tersebut, maka lambat laun masyarakat praktisi kebudayaan tersebut merasakan juga adanya manfaat dan keuntungan dari kunjungan para wisatawan tadi.

Maka dari itu, ada kecenderungan bahwa kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang dikunjungi wisatawan, menjadi tetap ada dan terpelihara bukan lagi atas sebab awal yakni karena nilai-nilai kemasyarakatan, keakraban, dan kekeluargaan. Pada gilirannya, kebudayaan-kebudayaan itu jadi tetap ada dan terpelihara, namun karena nilai-nilai keuntungan.

Jika merujuk pada konsep komodifikasi, maka yang tercabut dari kegiatan tersebut adalah nilai-nilai kekeluargaan dan keakraban tadi. Sesuai dengan yang disampaikan Tylor bahwa kebudayaan itu merupakan suatu kerumitan atas hubungan berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat. Jadi jika memang dinilai terjadi adanya komodifikasi terhadap kebudayaan, tentu bukan hanya dari beberapa unsur kebudayaan saja, namun pada dasarnya semua aspek pembentuk kebudayaan itulah yang rentan mengalami komodifikasi.

Pariwisata Mengkomodifikasi Atau Melestarikan Kebudayaan?

Namun dari sudut pandang lain, bisa saja ada pandangan bahwa kebudayaan itu sengaja disajikan kepada wisatawan, bukan untuk mengkomodifikasi kebudayaan, namun sebagai salah satu cara kebudayaan itu untuk bisa ‘survive’. Bisa dikatakan pelaku kebudayaan itu ‘mengorbankan’ sedikit nilai, demi menjaga nilai-nilai lain yang masih tersisa dan masih begitu berharga.

Apa yang terlihat sekilas dalam industri pariwisata, mungkin saja bisa dikatakan komodifikasi kebudayaan. Biasanya para pelaku kebudayaan menyebut komodifikasi kebudayaan atas kegiatan mencomot suatu aspek kebudayaan (misalnya kesenian, tarian, upacara adat), untuk bisa dipertontonkan kepada wisatawan, yang waktu kunjungannya sangat terbatas. Seringkali aspek kebudayaan itu kemudian dimodifikasi sehingga waktu tayangnya lebih singkat, ceritanya lebih sederhana, atau peralatan yang digunakan juga tidak terlalu lengkap. Jika ada aspek kebudayaan yang seharusnya diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu, namun agar wisatawan lebih mudah melihatnya, maka dibuatlah kegiatan kebudayaan itu dengan waktu yang disesuaikan ketersediaan waktu si wisatawan.

Jika itu yang terjadi, mungkin ketika dilaksanakan, maka nilai-nilai yang melatarbelakangi kegiatan kebudayaan itu memang bergeser. Kegiatan kebudayaan yang tadinya dilatarbelakangi nilai religi, atau penghormatan kepada leluhur, upacara adat, sekarang tidak lagi. Nilai yang dominan adalah nilai komersial, yakni agar mendapatkan uang.

Pariwisata Menghidupkan Kebudayaan Yang Punah

Namun perlu diingat juga oleh para pelaku kebudayaan, bahwa sudah banyak kebudayaan yang punah karena sudah tidak ada lagi pemakainya. Tentu saja para pelaku kebudayaan akan segera meninggalkan kebudayaannya tersebut jika sudah dianggap tidak lagi memberikan manfaat bagi para pelakunya. Jika sudah ditinggalkan tentu kebudayaan itu akan punah.

Komodifikasi seperti yang sering dituduhkan kepada para pelaku pariwisata, sebetulnya merupakan statement paradox. Selama ini cukup banyak contoh dari kegiatan kebudayaan seperti tarian, seni rupa, maupun upacara-upacara adat, yang kembali digali dan dipraktekan oleh suatu kelompok masyarakat, justru karena mereka melihat bahwa ada orang-orang (wisatawan) yang tertarik untuk menyaksikannya. Jika tidak ada wisatawan yang dibawa oleh para pelaku pariwisata untuk menyaksikan pertunjukkan kebudayaan tersebut, apakah para pegiat kebudayaan bisa yakin bahwa masyarakat akan tetap mempraktekan kebudayaannya tersebut?

Bahkan bisa saja lunturnya nilai-nilai kebudayaan itu bukan karena dipertunjukkannya terhadap wisatawan. Bisa saja lunturnya nilai-nilai itu memang karena masyarakatnya sudah perlahan-lahan meninggalkan kebudayaan mereka sendiri, karena sudah dianggap tidak ada manfaatnya. Salah satu faktor yang paling kuat tentu saja adalah globalisasi.

Pariwisata Memberi Identitas Lokal Dalam Globalisasi

Dengan adanya globalisasi, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di seluruh dunia sudah kian melebur. Maka dengan atau tanpa pariwisata pun kemungkinan besar nilai-nilai kebudayaan di kalangan masyarakat bisa saja bergeser. Ini sebetulnya bisa terlihat jika kita mencoba berkunjung ke katakanlah desa-desa atau pelosok-pelosok daerah di Indonesia saja. Di sana kita akan melihat betapa jajanan anak-anak sudah sama dengan jajanan anak-anak di Singapura atau bahkan Amerika, betapa mainan yang mereka mainan sudah sama dengan di Prancis atau Afrika sekalipun. Pakaian yang mereka kenakan pun sama dengan kita dan orang-orang lain di belahan bumi ini. T-shirt dan Jeans.

Kemudian apa yang dilakukan oleh pariwisata? Pariwisata mencoba menggali apakah di desa-desa dan pelosok-pelosok itu masih ada tersisa peninggalan kebudayaan-kebudayaan khas di daerah tersebut? Jika ternyata ada, maka Pariwisata mencoba mengemasnya - tidak seasli seperti semestinya - namun dengan penyesuaian di sana sini agar Pariwisata bisa membawa wisatawan untuk menyaksikannya. Agar aspek kebudayaan itu bisa mudah untuk dinikmati para wisatawan. Alhasil, masyarakat pun berlomba-lomba untuk menjadi orang paling tradisional di desa-desa tersebut. Walaupun memang motivasinya tidak terlalu ideal (apalagi di mata para pegiat budaya). Namun setidaknya kebudayaan itu bisa membiayai hidupnya sendiri agar bisa tetap lestari.

Friday, 25 July 2014

5 + 1 Pertimbangan Memilih Sekolah Untuk Putra-Putri Anda


Mengapa orang tua bersikukuh memasukkan putra putrinya ke sekolah 'favorit'?

Beberapa saat yang lalu kita telah melewati masa-masa pendaftaran anak sekolah. Salah seorang mahasiswi saya men-tweet dengan mention kepada Walikota Bandung bahwa akibat kebijakan baru sang walikota, adiknya yang berprestasi 10 besar tidak bisa masuk sekolah favorit yang diidamkan ibunya. Hal yang sama terjadi juga dengan keponakan saya. Ia lulusan yang masuk ranking 8 di sekolah dasarnya, namun tidak menjamin bisa masuk salah satu SMPN favorit di Kota Bandung karena alasan rayon yang tidak sesuai. Tetapi beruntung ia memiliki sebuah sertifikat dokter kecil yang ia dapatkan dari pemilihan dalam suatu lomba dokter kecil antar sekolah dasar tingkat nasional. Dengan menunjukkan sertifikat itulah ia sekarang diterima di SMPN favorit ibunya tersebut.

Namun dari cerita itu yang mengusik pikiran saya adalah, mengapa para orang tua selalu bersikeras ingin agar anak-anaknya diterima di sekolah-sekolah yang (katanya) favorit itu? Apakah karena memang sekolah-sekolah itu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah lain yang non-favorit?

Dalam mempertimbangkan sekolah untuk melanjutkan pendidikan putra putrinya, tentu ada dasar-dasar pemikiran yang melatarbelakanginya. Berikut ini pendapat saya:

Pertimbangan Fisik Sekolah 
Saat kita mencarikan sekolah untuk putra putri kita tentu kita ingin sekolah mereka memiliki gedung yang baik. Kita juga mempertimbangkan fasilitas-fasilitas apa saja yang disediakan sekolah tersebut. Mulai dari kantin, tempat olah raga, toilet yang baik, hingga tempat anak-anak bersantai saat menunggu jemputan misalnya. Demikian pula dengan fasilitas-fasilitas belajarnya. Kita ingin putra-putri kita belajar di kelas-kelas yang aman, bersih serta nyaman. Akan lebih baik jika sekolah itu memiliki juga fasilitas seperti laboratorium, perpustakaan, dan mungkin juga komputer-komputer yang terkini. Selain itu secara fisik tentu sebaiknya dicari sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal putra putri kita.

Pertimbangan Ekonomi
Selain pertimbangan fisik umumnya orang tua akan mempertimbangkan masalah ekonomi. Hal ini antara lain mencakup uang sekolah atau SPP, sumbangan-sumbangan gedung sekolah, buku-buku, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Umumnya memang sekolah-sekolah favorit adalah sekolah negeri yang biaya sekolahnya relatif lebih murah dibandingkan sekolah-sekolah swasta. Terkait dengan lokasinya, tentu kalau lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal sang anak, asumsinya ongkos sehari-harinya pun akan lebih ringan.

Pertimbangan Kualitas Belajar
Pertimbangan selanjutnya yang sangat penting adalah dari sisi kualitas belajar. Beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kualitas belajar antara lain adalah kurikulum. Sebetulnya dari sisi kurikulum tentunya secara nasional haruslah sama antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Baik dalam satu provinsi maupun dengan provinsi lain di Indonesia. Namun memang ada muatan-muatan lokal dan juga kegiatan-kegiatan tambahan (ekstra kurikuler) yang khas di masing-masing sekolah yang bisa menjadi pertimbangan. Selain itu faktor lainnya adalah gurunya. Biasanya sekolah-sekolah yang difavoritkan memang menjadi tempat bagi guru-guru yang terbaik pula. Meski bukan berarti di sekolah-sekolah non-favorit para gurunya tidak baik. Beberapa sekolah ada yang memiliki prestasi-prestasi khusus yang bisa mendukung sekolah tersebut untuk difavoritkan para orang tua.

Pertimbangan Lingkungan
Selain secara fisik lokasi sekolah sebaiknya mencari yang dekat, para orang tua juga harus mempertimbangkan lokasi dari sisi lingkungannya. Apabila sekolah itu terletak di lingkungan masyarakat yang kurang baik (kumuh, kriminalitas tinggi), tentunya harus berpikir ulang sebelum menyekolahkan anak-anak kita di sana. Demikian pula perlu diperhatikan lingkungan murid-muridnya itu sendiri. Memang ada beberapa sekolah yang memiliki stigma tempat sekolahnya anak-anak yang nakal-nakal. Meski belum tentu benar, tentu saja ada baiknya untuk kita cermati.

Pertimbangan Reputasi Sekolah
Di luar pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, mungkin pertimbangan reputasi sekolah menjadi salah satu yang dianggap paling penting. Reputasi sekolah sudah berlaku seperti brand. Dengan menyekolahkan putra-putri kita ke sekolah yang memiliki reputasi baik, ada semacam jaminan bahwa setelah lulus dari sekolah tersebut akan mudah masuk ke sekolah favorit berikutnya di jenjang yang lebih lanjut. Inipun banyak yang menjadi perhatian para orang tua. Tetapi tidak sedikit juga yang menjadikan pertimbangan reputasi ini sebagai dasar untuk menaikkan gengsi sosial para orang tua di kalangan pergaulannya. Hanya saja tentunya ini bukan merupakan alasan yang baik dalam memilih sekolah untuk putra-putri kita.

Secara garis besar, agaknya itulah pertimbangan-pertimbangan penting yang perlu dipikirkan para orang tua dalam memilih sekolah untuk putra-putrinya. Rupanya sekolah-sekolah yang difavoritkan pada umumnya memang memiliki keunggulan-keunggulan dari setiap unsur yang disebutkan di atas. Tentu bisa dimengerti mengapa para orang tua ingin putra-putrinya bersekolah di sekolah-sekolah favorit di kotanya tersebut. Walaupun begitu, sekolah-sekolah non-favorit pun tentu sudah memenuhi juga aspek-aspek tersebut meski tidak sepenuh sekolah favorit.

Namun sebetulnya ada satu bahan pertimbangan lagi yang saya rasa jarang dipikirkan oleh para orang tua. Pertimbangan ini terpikir oleh saya ketika bertemu rekan-rekan sepanjang karir saya, baik di industri perjalanan wisata, maupun saat mengajar di sekolah pariwisata. Selama saya bekerja, saya banyak menjumpai rekan-rekan kerja dari berbagai kalangan. Ada yang bekerja sebagai sopir, pemandu wisata, atau tour manager. Ada pula yang sudah menjadi direktur bahkan ada yang sudah menjadi owner (pemilik usaha). Rekan-rekan kerja saya yang beragam jabatannya itu sudah tentu berlatar belakang pendidikan yang beragam. Ada yang lulusan SMA, Diploma III, Sarjana, atau malah ada yang SD pun tidak tamat.

Dari beberapa rekan kerja tersebut, ada orang-orang yang saya anggap cukup sukses. Seperti salah satunya ada seorang owner perusahaan perjalanan wisata misalnya. Saya bertemu dengan beliau saat mengundangnya sebagai penceramah tamu bagi para mahasiswa saya. Pada saat itu saya mengetahui ternyata ia adalah alumni dari sekolah pariwisata yang sama dengan saya tempat saya mengajar sekarang (kebetulan merupakan salah satu sekolah pariwisata favorit di Indonesia). Saat ini perusahannya sudah memiliki setidaknya lima cabang di Kota Bandung. Omsetnya pun lumayan. Usut punya usut, sang owner ini rupanya pada saat SMA dulu ia bersekolah di gedung sekolah yang sama dengan saya, di salah satu SMA favorit di Kota Bandung. Bedanya, ia masuk pada jam siangnya setelah sekolah saya selesai, alias SMA petang! Mungkin Anda mulai paham maksud saya sekarang.

Sang owner perusahaan perjalanan yang sukses itu dulu bersekolah SMA dengan 'derajat favorit' yang begitu jauh di bawah SMA saya. Tetapi pada akhirnya saat ia lulus dan pergi kuliah, ia berhasil masuk di kampus favorit yang sama dengan saya yang nota bene adalah lulusan SMA 'favorit' di Kota Bandung.

Jadi dari kejadian ini saya bertanya-tanya, apakah ada relevansinya atau korelasinya antara lulusan sekolah favorit dengan karir di masa depan? Memang saya akui untuk membuktikan hal ini harus dilakukan penelitian lebih lanjut. Tapi setidaknya dari bukti yang saya jumpai tersebut di atas, saya bisa menyimpulkan, jika yang menjadi prioritas bagi kita adalah kesuksesan karir masa depan cemerlang dari putra putri kita, tidak masuk sekolah favorit adalah bukan akhir dari segalanya.
Tentu saja kelima pertimbangan sebelumnya yang saya uraikan di atas juga penting. Tidak masuk sekolah favorit bukan berarti kita lantas begitu saja memasukkan putra-putri kita ke sembarang sekolah. Namun pada akhirnya tetap bimbingan kita sebagai orang tualah yang menjadi penting. Berilah pengertian-pengertian pada putra-putri kita bahwa di mana pun mereka bersekolah itu adalah baik. Tekankan pada mereka untuk fokus pada tujuan mereka bersekolah itu apa. Di mana pun sekolah mereka, sebetulnya yang terpenting adalah hasrat untuk belajar.

Seorang siswa sekolah non-favorit yang belajar giat dan mendapatkan peringkat yang baik, kemungkinan besar bisa mengalahkan siswa sekolah favorit yang peringkatnya kurang baik. Terlebih lagi dalam menghadapi kehidupan nyata selepas masa-masa sekolah mereka, tentu kita ingin putra-putri kita siap untuk itu. Ini yang terpenting.


Kesimpulan dari tulisan ini adalah, janganlah lagi kita begitu terpaku pada stigma-stigma sekolah favorit sebagai dasar pilihan kita untuk menyekolahkan putra-putri kita. Mungkin ada baiknya juga kita mulai mendefinisikan ulang istilah sekolah favorit itu sendiri. Saya pikir sekolah yang favorit itu adalah sekolah yang setidaknya memenuhi aspek-aspek kelima pertimbangan yang tadi dijabarkan di atas. Tetapi yang lebih penting adalah, hendaknya kita mulai berpikir pada bagaimana strategi kita agar di manapun putra-putri kita bersekolah mereka tetap memiliki hasrat belajar yang tinggi. Akhir kata, mari kita doakan agar dunia pendidikan bagi putra-putri kita di masa ini dan yang akan datang menjadi lebih cerah lagi.

(NB: Untuk mempelajari bagaimana memilih universitas yang terbaik bagi putra-putri Anda, ada baiknya Anda membaca buku College Match dari Dr. Steven Antonoff. Di situ dijelaskan panduan terkemuka bagaimana memilih kampus yang tepat. Apabila ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, saya menganjurkan membaca buku College Handbook 2015 ini.)

Saturday, 19 July 2014

9 Kiat Praktis Untuk Menjadi Kreatif


Jika Anda merasa diri kurang kreatif, jangan khawatir, semua orang saya rasa juga demikian. Menurut saya kreatif itu sebetulnya kata kerja di mana Anda memiliki kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan orang kreatif. Bukan kata sifat yang begitu saja tumbuh dalam diri seseorang.

Ketika Anda memutuskan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan orang kreatif tersebut, maka itulah yang disebut kreatif. Kreatif bukan berarti Anda secara sakti mandraguna bisa mendapatkan solusi untuk setiap permasalahan yang muncul dengan begitu saja. Kreatif berarti Anda melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk bisa memecahkan suatu masalah.

Ada beberapa kiat yang saya dapat dari berbagai sumber untuk menjadikan diri kita orang kreatif. Di bawah ini saya cantumkan yang saya anggap paling bisa Anda terapkan untuk menjadikan diri Anda kreatif:

Kait-kaitkan Satu Fenomena Dengan Fenomena Lain
Oscar Wilde pernah berkata, seorang jenius itu biasa mengkait-kaitkan masalah yang dihadapinya dengan berbagai hal lain yang ia ketahui, sehingga ia bisa mendapat solusi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Jadi kiat saya, gunakan untuk diri Anda sendiri. Jika Anda ingin menjadi jenius, saat menghadapi suatu permasalahan, cobalah kait-kaitkan dengan hal-hal lain yang Anda ketahui. Siapa tahu solusi tak terpikirkan itu akan muncul.

Gunakan Khayalan Anda
Seringkali mimpi dan khayalan merupakan hasil dari pikiran bawah sadar Anda yang bekerja untuk mendapatkan solusi suatu masalah. Berikan makna untuk hal-hal tersebut, walaupun semua itu tampak tidak berhubungan. Karena gagasan-gagasan aneh dapat memunculkan solusi inovatif dan revolusioner.

Berani Mengambil Resiko Salah
Orang yang kreatif, termasuk banyak ilmuwan termasyhur di dunia, bergelut dalam solusi-solusi gagal yang tak terhitung jumlahnya sebelum menemukan satu yang berhasil. Biasakan untuk berani mengambil resiko salah agar mencapai keberhasilan.


Kumpulkan Pengetahuan dari Tempat Lain
Ketika bekerja dengan situasi yang menantang, lihatlah tempat-tempat lain dalam kehidupan Anda dan cobalah untuk melihat kesamaan-kesamaannya. Mungkin sesuatu yang berhasil untuk suatu jenis masalah dapat digunakan untuk masalah yang sedang Anda hadapi saat ini. Konon Steve Jobs dari Apple Computers juga sering kursus kaligrafi, dan juga mempelajari operasional hotel Four Seasons dalam mengembangkan penemuan untuk perusahaan komputernya.

Ubahlah Posisi Anda Sesering Mungkin
Jika Anda duduk di belakang meja Anda, pergilah ke luar dan berbaringlah di atas rumput. Atau, jika Anda berada dalam ruang konferensi di kantor, bertukar tempatlah dengan orang lain atau berdirilah. Mengubah posisi Anda berarti mengubah pandangan Anda terhadap berbagai hal, dan perubahan posisi mungkin akan menghasilkan perubahan sikap mental.

Lihatlah Situasi Dari Semua Sisi
Bayangkan diri Anda secara fisik berada di bawah sedang menatap ke atas, dari atas melihat ke bawah, dari belakang melihat ke depan, dari dalam melihat ke luar, dan dari sudut pandang semua pihak yang terlibat. Hal ini membuat Anda mampu melihat situasi tersebut dari jendela-jendela baru dan dapat memberikan wawasan yang Anda butuhkan untuk pemecahan masalah secara kreatif.

Biarkan Kesenangan Memasuki Kehidupan Anda
Bermainlah! Ini membuat sifat kanak-kanak dalam diri Anda muncul dan memberikan wawasan segar. Anda pun akan menjadi lebih kreatif jika kehidupan Anda seimbang antara bekerja dan bermain.


Ingatlah Kesuksesan Anda di Masa Lalu
Menurut Bobbi De Porter, cobalah biasakan untuk mengingat-ingat kesuksesan Anda di masa lalu, baik yang biasa maupun yang menakjubkan. Jika Anda pernah mencapai suatu keberhasilan (dan kita semua pasti pernah mengalaminya suatu waktu dalam hidup kita), Anda tahu bahwa Anda mampu melakukannya lagi. Ingatkanlah diri Anda tentang hal itu pada saat Anda menggarap suatu tantangan.

Yakinlah Bahwa Hari Ini Bisa Menjadi Hari Terobosan
Jalani hari Anda dengan keyakinan bahwa sesuatu dapat terjadi untuk mengubah segalanya. Dengan cara itu, jika sesuatu itu benar-benar muncul, maka Anda akan siap menerimanya.

Jadi jika Anda sedang memerlukan suatu solusi atas permasalahan yang Anda hadapi, atau sedang mencari ide-ide kreatif, maka yang harus Anda lakukan bukanlah duduk termenung di kamar Anda sambil memeras otak dan menunggu inspirasi jatuh dari langit. Melainkan cobalah untuk baca majalah, nonton televisi, browsing di internet, atau bahkan berjalan-jalan ke mana saja untuk memunguti ide-ide yang tercecer di jalanan.

Ada pepatah yang dikutip oleh Paul Arden (saya lupa dari siapa ia mengutipnya) seperti berikut: "It's not where you take things from. It's where you take them to." Jadi punguti ide-ide yang tercecer di jalanan itu dan bawa ke tempat-tempat yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Mulai sekarang, cobalah lakukan kebiasaan-kebiasaan orang kreatif, sehingga Anda pun akan menjelma menjadi orang kreatif. Ingat kata Stephen Covey dalam bukunya "Seven Habits Of Highly Effective People", bahwa nasib seseorang itu ditentukan oleh sikap. Sikap itu dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan. Jika Anda melakukan kebiasaan-kebiasaan orang kreatif, niscaya nasib Anda pun akan seperti mereka.

Wednesday, 1 August 2012

3 Desain Poster Olympiade yang Paling Keren

Lagi-lagi, mengikuti perkembangan pesta olah raga sedunia, Olympiade di London 2012, ada satu hal yang menarik. Sekarang saya tertarik dengan desain-desain logo dan poster dari Olympiade itu sendiri. Setelah melihat-lihat logo Olympiade London kali ini saya sebenarnya merasa agak aneh dengan bentuk desainnya. Memang terlihat seperti angka 2012 yang mewakili tahun penyelenggaraannya. Namun lebih dari itu saya belum menemukan makna lainnya.

Dari antara desain-desain logo dan poster olympiade sejak yang pertama di Atena, hingga yang sekarang di London, ada beberapa desain yang khusus saya senangi. Ada 3 sebenarnya, yakni:

1. Tokyo 1964
Saya sangat senang dengan desain poster sewaktu Olympiade di Tokyo tahun 1964. Desainnya sangat simple tapi begitu berani dan menonjol (bold). Desain-desain sebelum olympiade di Tokyo ini terlihat begitu semarak. Tentu sesuai dengan tema peristiwanya yakni "pesta" olahraga.

Namun ketika penyelenggaraan di Jepang, desain logonya sangat sederhana, namun berani. Lingkaran Merah. Ini tentu saja mengambil bentuk lambang negara Jepang yang ada pada bendera negara tersebut.

Saya kurang mengetahui tren dari desain pada masa-masa tersebut (tentu saja karena saya belum lahir), namun terlihat sangat berani meninggalkan 'pakem' dari desain-desain poster sebelumnya yang penuh ilustrasi gambar dan warna-warna yang terlihat cukup semarak. Bahkan dalam desain Tokyo 1964 ini juga gambar cincin-cincin olympiadenya tidak dibuat berwarna seperti biasanya (mewakili warna-warna benua).

2. Los Angeles 1984
Kemudian ada lagi desain yang menarik lainnya untuk saya yaitu saat Olympiade di Los Angeles 1984. Sepertinya dunia desain grafis saat itu sedang mengalami perkembangan. Terlihat dari teknik pembuatan logo yang cukup rumit dan memerlukan keterampilan dan teknologi yang lebih maju. Dalam logo bintang yang di'shred' itu dimasukkan juga foto-foto secara kolase dan embeded di dalam bintang itu.

Menurut saya tampilan desain olympiade ini cukup mewakili suasana 'pesta' olahraga tersebut. Selain itu juga keberagaman para peserta olympiade juga terwakili dengan warna-warna foto yang ada di dalam desain bintang itu. Namun desain bintangnya sendiri tanpa diisi foto-foto juga tampil cukup enerjik.

3. Athena 2004
Olympiade kembali diselenggarakan di Athena (tempat awal dimulainya pesta olahraga ini), pada tahun 2004. Desain posternya sepertinya meneruskan jiwa simplistik yang dipelopori oleh poster waktu olympiade di Jepang itu. Lagi-lagi yang saya senangi di sini bahwa logo desainnya membawa identitas khas dari negara tempat penyelenggaraannya (untaian daun yang biasa jadi mahkota caesar).

Kenyataan bahwa tulisan dari poster itu menggunakan huruf Yunani juga memberi nilai yang khas pada poster ini. Meski hurufnya tidak terlalu bisa dimengerti namun bentuknya tetap bisa dikenali secara universal: Athena 2004.  (seandainya poster Tokyo 1964 juga didampingi oleh huruf kanji, mungkin akan lebih menarik).

Poster ini juga membawa kita untuk membandingkan dengan poster saat penyelenggaraan olympiade untuk pertama kalinya di kota yang sama, yakni Athena 1896 silam. Terlihat dari perubahan gaya posternya kita bisa 'membaca' perkembangan zaman di negara tersebut.

Demikian poster-poster yang paling saya senangi di antara semua poster olympiade yang pernah diselenggarakan. Perkembangan desain poster olympiade ini secara lengkap bisa di lihat di situs ini.

Sumber: http://webexpedition18.com/


Friday, 25 February 2011

Banyak Ide Bisnis Yang Sukses Besar Diawali Dari Rumah

Mungkin Anda tidak akan menyangka bahwa begitu banyak perusahaan-perusahaan besar yang sekarang sukses, ternyata diawali dari rumah. Baik itu di kamar belakang, garasi, maupun gudang.

Maestro komputer Amerika, Steve Jobs, pendiri Apple Computers, mengawali bisnisnya dari kamar tidurnya di asrama, dan kemudian melanjutkan ke garasi di rumahnya. Begawan bisnis lainnya dari Inggris, Sir Alan Sugar, kemudian Chief Executive legendaris dari Amstrad (Alan Michael Sugar Trading) mengawali usahanya dari rumah dengan menjual onderdil listrik lalu menjajakannya di belakang bagasi mobilnya.

Mendiang usawahan ikon aktivis Anita Roddick, pendiri the Body Shop, mendirikan usaha awalnya dari kamar ‘bed and breakfast’ di Littlehampton (kota tempat ia tumbuh dan di mana ibunya menjalankan warung kopi kecil-kecilan). Meskipun kemudian the Body Shop mulai terlihat hidup saat menyewa toko kecil di Brighton, pada dasarnya embrio awalnya adalah dari ide bisnis rumahan. Usaha ini diawali Anita saat ia ingin menjual produk-produk yang tidak menggunakan percobaan binatang atau produk-produk yang diproduksi dengan melukai siapapun.

Situs jejaring sosial online Friends Reunited diawali dari rumah oleh Steve Pankhurst dan Jason Porter, yang lalu menjual perusahaannya itu konon dengan seharga £120 juta beberapa tahun kemudian. Sekali lagi, ide dan bisnis dimulai di rumah dengan niat awal untuk menciptakan usaha sampingan.

Menurut legenda, Richard Branson, pendiri the Virgin Group, dulunya menggunakan telepon umum di dekat rumahnya sebagai ‘kantor’ untuk menerima dan melakukan telepon. Mungkin benar atau tidak, tapi ternyata ia memang mendirikan bisnisnya dari rumah, dan selanjutnya menjalankan kerajaannya dari rumah perahu di dermaga London.

Sumber: Paul Power

Mengapa Banyak Usaha Yang Dimulai Dari Rumah?

Jawabannya adalah karena ide-ide cemerlang itu biasanya datang dari dalam rumah. Selain itu, alasan yang paling jujur adalah, mengapa banyak kerajaan bisnis diawali dari rumah karena para pendirinya dulu tidak punya modal yang cukup untuk mengawalinya dari tempat lain.

Tentu saja kita semua ingin memiliki kantor yang mentereng dengan desain masa kini, sederetan armada kendaraan dengan model terbaru untuk mengirim produk kita, para pegawai dengan seragam yang perlente, namun apa boleh buat, mengawali bisnis tidak seperti itu. Para wirausahawan rumahan yang pasti tidak punya (atau hanya punya sedikit) uang, tentu harus tetap punya keyakinan yang cukup atas diri mereka sendiri dan ide-ide mereka untuk melanjutkan impian besar mereka, yang pada dasarnya hanya bisa dimulai dari meja dapur mereka dulu.

Jika lain kali ada usaha yang sukses menarik perhatian Anda, coba luangkan waktu untuk mencari tahu bagaimana dan dari mana semua itu diawali. Saya jamin bahwa hampir semua perusahaan yang Anda temui akan ternyata pada suatu waktu pernah diawali sebagai usaha rumahan.

Sumber: Paul Power

Wednesday, 15 September 2010

Original VS Otentik

Dalam sebuah buku mungil yang menarik, saya pernah membaca bahwa di dunia ini hampir tidak mungkin untuk membuat karya yang original. Tentu saja, setiap kali kita membuat sesuatu, pasti kita mendapati bahwa orang lain sudah ada yang pernah membuatnya sebelum kita. There's nothing new under the sun.

Namun buku mungil itu mengatakan, memang kita tidak akan pernah bisa menjadi original, tetapi kita selalu bisa membuat karya yang otentik (authentic). Premis yang dikemukakan oleh buku ini adalah pemikiran seorang filsuf Perancis bernama Jean Guillard. Ia mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah dari mana kita mengambil sesuatu, tapi ke mana kita akan membawanya.

Setiap kali kita berkarya, sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan bahan-bahan berkarya yang murni hasil buatan kita sendiri. Kita pasti akan mengambil ide-ide dari karya-karya orang lain. Namun saat kita mengambil ide orang lain tersebut, kita harus mengubahnya menjadi sesuatu yang baru.

Jadilah Jenius

Oscar Wilde, seorang filsuf dari Amerika, pernah mengatakan bahwa seorang yang jenius cenderung menghubung-hubungkan amatan sehari-hari mereka dengan kejadian lain yang mereka ketahui. Saat mereka melihat suatu fenomena, mereka akan teringat dengan kejadian lain dan mulai berpikir tentang hubungan antara kedua kejadian tersebut.

Mungkin cara berpikir demikian mengingatkan kita pada teori konspirasi. Namun seperti itulah menurut Oscar para jenius berpikir.

Saya mendapat ide dari situ bahwa, mungkin saja prosesnya bisa bekerja sama baiknya jika urutannya dibalik. Ketika kita menyadari bahwa diri kita bukan jenius, cobalah mulai berpikir seperti seorang jenius. Kait-kaitkanlah informasi-informasi yang kita miliki satu sama lain. Sangat boleh jadi jika kita melakukan cara berpikir seperti seorang jenius, kita pun akan berkembang mengarah kepada keadaan tersebut.

Jualan Hotel

Jualan Hotel
Dengan akses member untuk keunikan sistem yang kita miliki, kamu akan terkejut dengan harga yang sangat spesial & promosi yang akan kita tawarkan.

Web Murah

Web Murah
Ayo bikin web kamu sendiri! Awali dengan memiliki domain. Dapatkan dengan harga murah sekarang juga.

AA Travel

AA Travel
Temukan dan pesan tiket pesawatmu dengan mudah di sini. AA Travel merupakan mesin pencari tiket pesawat yang praktis. Penggunaannya sederhana dan cara pembayarannya pun begitu mudah.

My Instagram

 

© 2013 Pemasaran Pariwisata. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top